LAWANG SAKEPENG

Kelompok 2 X-k

-M. Rasya Hafiz Abdilah

-M. Hafis Ansyari

-Danies Ronal Al fatih

-Riani Mutiara Ramadhani

-Hayatun Nupus

-Adira Indy Setiawati


Lawang Sakepeng Suku Dayak dari Provinsi Kalimantan Tengah



     Sakepeng adalah atraksi suku Dayak Ngaju dari Provinsi Kalimantan Tengah. Lawang artinya pintu atau gapura dan sakepeng berarti satu keping. Lawang sakepeng sering diperagakan pada upacara adat baik untuk menyambut tamu maupun acara perkawinan. Gapura Lawang sakepeng biasanya dibuat dari kayu dengan lebar kurang lebih 1,5 meter dengan tinggi 2,3 m, bagian atasnya di ukir dengan tanaman rambat dan hiasan burung enggang, bagian sisi sampingnya dihiasi dengan janur atau daun kelapa muda serta telawang (perisai suku Dayak).


SEJARAH

    Pencak silat menjadi dasar dari kebanyakan atrkasi Lawang sakepeng. hal ini konon di pengaruhi oleh budaya dari luar yang dibawa oleh para pedagang yang masuk ke kawasan Kalimantan. Pengaruh gerakan tersebut antara lain adalah gerakan mirip bela diri dari dataran Cina, maupun silat dari Sumatera dan Jawa. Awal muasal nenek moyang Suku Dayak dahulu mengadopsi gerakan dan tingkah laku hewan dalam belajar silat, yaitu terinspirasi dari hewan endemik yang banyak dihuni dihutan yaitu beruk yang disebut bangkui oleh Suku Dayak. Perkembangan silat ini akhirnya menjadi sebuah tradisi kesenian yang terus mengalami perkembangan, hingga kini tak hanya menjadi gerakan bela diri namun juga sebagai bentuk kesatria nagi laki-laki yang akan melaksanakan pernikahan. Dan kemudian berkembang menjadi atraksi seni budaya dalam menyambut dan menghormati tamu yang hadir dalam sebuah upacara adat.

    Tradisi Lawang sakepeng memiliki nilai adat dan agama yang kental, atraksi Lawang sakepeng dalam acara pernikahan bertujuan memeriahkan dan menyambut kedatangan pengantin laki-laki juga untuk menjauhkan segala rintangan dan musibah yang dapat dialami calon suami-istri dalam menjalani kehidupan rumah tangga


MORAL

  Secara umum makna atau filosopi tradisi "Lawang Sakepeng ini adalah untuk menjauhkan sebuah kehidupan keluarga dari berbagai rintangan, halangan maupun malapetaka. Sebab itu menjalani kehidupan harus dijalani dengan kegigihan".

FILOSOFI

  Kenapa harus ada benang penghalang dan harus diputus pada gapura Lawang Sekepeng, tentu bertujuan untuk memutuskan hal-hal yang tidak baik dalam sebuah hubungan keluarga.


SYARAT PELAKSANAAN

    Tradisi ini dapat dilakukan laki-laki maupun perempuan. acara pernikahan, pesilat yang bermain berasal dari pihak laki-laki maupun perempuan. Masing-masing mempelai dapat menurunkan pesilat sebanyak satu atau lebih dari satu. Pesilat yang dipilih adalah pesilat yang memahami tata cara bermain,seperti menyerang, menangkis, bahkan membuat lawan terluka.

    Permainannya dengan mempertemukan para pesilat pada satu titik garis saling berhadapan satu lawan satu. Pertemuan tersebut tepatnya di bawah gapura atau lawang. Titik garis ini biasanya menggunakan benang sebagai rintangan, dimana pada benang itu dipasang bunga warna-warni. Tali penghalang ini menjadi pertemuan para pesilat untuk dibuka yang didahului dengan atraksi pencak silat. Atraksi Lawang Sakepeng diiringi dengan alat musik pengiring, biasanya berupa gendang manca dan garantung khas Dayak. Biasanya pesilat menggunakan rompi khas Dayak, namun saat ini banyak pesilat yang tidak menggunakan rompi itu.


TUJUAN ATAU MANFAAT DARI KEARIFAN LOKAL LAWANG SAKEPENG

1. Mengintegrasikan elemen budaya eksternal yg memasuki budaya asli

2. Memberikan arahan untuk pengembangan budaya

3. Sebagai filter dan pengontrol kultur eksternal

4. Sebagai akomodasi elemen budaya eksternal

5. Melahirkan generasi yg bermatabat

6. Merefleksikan nilai2 budaya

7. Membentuk karakter bangsa

8. Berkontribusi menciptakan Identitas Negara

Komentar