Mamapas lewu

Pembuat:Adira Indy Setiawaty XK

 Syarat dan pelaksanaan Mamapas Lewu

Prasarana pelaksaan Mamapas Lewu



1. Sarana dan sesajen dalam upacara

mamapas lewu.

a. Ayam 3 (tiga) ekor

b. Babi 1 (satu) ekor

(tujuh) ruas lamang, merupakan beras ketan dicampur dengan santan dimasak menggunakan bamboo

3. Air putih dan baram,sebagai persembahan kepada Ranying Hatalla Langit dan roh leluhur.

4. Satu buah sangku, sebagai tempat meletakkan sarana dan prasarana.

5. Dua talam (Apar-apar), tempat untuk meletakkan sesajen.

6. Satu baskom air dicampur dengan darah hewan.

7. Parepen, tempat pembakaran menyan.

8. Satu mangkok beras tawur.

9. Dawen sawang.

10. Bendera, sebagai tanpa sedang di adakan upacara adat.

11. Tampung tawar.

12. Singah Hambaruan.

13. Selendang untuk menari Riam

14. Satu buah baskom berisi kepala babi

yang masih mentah, dan tujuh buah

gelas berisi Malaga.

15. Mendirikan balai pundung yang terbuat

dari bamboo yang digunakan untuk menyimpan penyang, benda pusaka, guci, Mandau, dan sarana mamapas.

16. Seperangkat alat musik tradisional kecapi, kangkanung, kandang, seruling dan gong.

17. Behas tampak, dilengkapi dengan sipa giling pinang, ruku tarahan, uang,

18. Tambak Hambaruan

19. Mendirikan kramat

20. Satu lembar kain digunakan untuk

pelindung, tepatnya dimana pisur

duduk.

21. Dua lembar kain kuning.

Tata cara pelaksanaan Mamapas Lewu:

1. Sehari sebelum hari puncak pelaksanaan upacara adat mamapas lewu

Penyang – penyang dan benda – benda pusaka warisan nenek moyang yang disakralkan oleh masyarakat Hindu kaharingan dituntun/dijemput dari rumah penduduk dibawa ketempat upacara Mamapas Lewu, diletakkan dibalai pandung bersama dengan guci dua buah. Masyarakat meletakkan sesajen dan sarana yang akan digunakan untuk upacara Mamapas Lewu di dekat balai Pandung. Pada malam hari Tukang rukun (rohaniawan) melaksanakan menawur memohon kehadapan Ranying Hatalla Langit untuk hadir menyaksikan upacara Mamapas Lewu dengan pekikan lo...lo...lo... sebanyak tiga kali ditambah pukulan gong sebanyak tiga kali juga. Dan memohon kehadapan Ranying Hatalla serta manivestasi beliau termasuk roh – roh penyang penjaga kampung supaya bangun yang diyakini oleh umat Hindu Kaharingan di Kota Kasongan dapat membantu masyarakat bila ada kerusuhan dan bencana yang mengancam masyarakat dikampung mereka. Kemudian disambut dan dihibur dengan tari yang disakralkan oleh umat Hindu Kaharingan yaitu tari nganjan dan tari Riam semalam suntuk.


2. Pada Hari puncak upacara mamapas lewu

Jika semua sudah lengkap dan siap maka Basir (Rohaniawan) memulai upacara dengan rentetan sebagai berikut:

  • Masyarakat Hindu Kaharingan di Kota Kasongan berkumpul di tempat Upacara Mamapas Lewu untuk melaksanakan pemotongan hewan kurban ayam, babi dan sapi yang didahului dengan doa oleh pemimpin upacara. Darah hewan kurban di ambil sedikit dicampur kedalam baskom yang sudah di isi air dan kayu katabah, dilanjutkan dengan menawur dan mamapas dengan mencipratkan air campuran di atas dengan daun papas yang dibuat dari daun kayu posi, daun sawang, daun kakujung, daun bungi, dan daun tawa. Dengan menggunakan tangan kiri terlebih dahulu kemudian diganti dengan tangan kanan. Diawali dari tempat upacara manyanggar dilanjutkan mamapas keliling kampung dan mamapas ditempat mendirikan kramat di dekat Balai Basarah Hindu Kaharingan di Kota Kasongan.Tujuannya untuk menyuruh iblis /buta Kala/ makluk yang jahat pindah dari kampung agar tidak mengganggu kehidupan manusia.

  • Binatang kurban yang telah dipotong dibiarkan sedikit yang mentah terutama daging babi yang lainnya dimasak oleh anggota masyarakat untuk sesajen dan dijadikan menu makan bersama oleh masyarakat yag hadir pada upacara Mamapas Lewu.

  • Pada siang hari setelah olahan binatang kurban masak, pemimpin upacara bersama anggota masyarakat menyiapkan sesajen yang akan dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa/ Ranying Hatalla langit. Sesajen yang akan dipersembahkan disebut pakanan menurut masyarakat setempat. Setelah sesajen siap ditata/diatur maka pemimpin upacara yang berjumlah 3 orang duduk diatas gong berdoa sambil menawur menghaturkan/mempersembahkan sesajen kepada Ranyin Hatalla langit yang diundang hadir pada upacara tersebut. Dengan disambut tari sakral Riam panjang dan tari nganjan diiringi musik tradisional. Kemudian salah satu tokoh agama Hindu Kaharingan pergi kesungai dekat upacara Mamapas Lewu berlangsung membawa satu buah ancak yang lengkap diisi nasi, lauk pauk mentah dan masak, telor kampung, Malaga dipersembahkan kepada Jata dengan maksud memohon air suci untuk tamping tawar (tirta) sedangkan ancak yang lainnya dipersembahkan kepada penjaga kampung dihilir, dihulu seberang dan dikramat. Setelah tukang rukun mengantarkan persembahan sesajen di tempat upacara Mamapas Lewu dilanjutkan mempersembahkan sesajen di kramat bersama anggota masyarakat untuk memeriahkan upacara Mamapas Lewu. Upacara dikramat dipimpin oleh dua orang basir dengan diiringi alunan musik tradisional dan tari nganjan mengelilingi kramat oleh masyarakat yang hadir pada upacara tersebut. Seusai upacara dikramat seluruh masyarakat kembali ketempat upacara Mamapas Lewu untuk makan bersama.


3. Sehari setelah upacara Mamapas Lewu dilaksanakan pembongkaran balai pandung dan mengembalikan penyang – penyang serta benda pusaka kepada pemiliknya.

Komentar

Postingan Populer